Maaf Untuk Mama dari Vina

Sekarang pukul 6.29 malam, tepat setelah menunaikan sholat maghrib. Dengan mata yang sembab, izinkan aku menulis ini untuk Mama.

Maaf Untuk Mama

Jumat, 17 Agustus 2018. Polewali.

Bapak bersikeras menyuruhku berangkat ke Makassar pagi tadi karena katanya hari ini adalah hari yang baik. Awalnya aku sempat menolak karena kebanyakan temanku baru berangkat besok pagi. Tapi apalah daya, seorang anak harus nurut sama orang tua.

Nyatanya, keadaan berbalik. Mobil yang rencana kutumpangi, batal berangkat. Mama menyarankan untuk melepon supir lain tapi aku tidak mau. Karena Bapak sedang di kampung, Mama menelepon memberitahukan bahwa aku batal berangkat hari ini dan lebih baik besok saja karena aku tidak mau berangkat jika supirnya bukan orang yang aku kenal. Bapak mengatakan tidak apa-apa, tapi aku tahu Bapak pasti marah dan kecewa kepadaku.

Aku mengurung di kamar. Aku merasa marah. Dengar umur setua ini, kenapa orang tuaku selalu saja mengaturku. Untuk memperbaiki suasana, Mama mengajakku ikut rekreasi bersama temannya. Aku menolak dan memilih tidur saja di rumah. Jadilah Mama pergi bersama adikku Ery dan Iban, meninggalkan aku sendirian di rumah.

Mama baru pulang jam 11 siang. Tidak ada percakapan yang berarti. Aku hanya mengatakan bahwa Yana dan Indah akan berangkat ke Makassar besok pagi. Sore sekitar jam 4, temanku Yana menelponku mengatakan bahwa Mamaku menelponnya supaya aku dan dia bersamaan ke Makassar dengan supir yang kuketahui. Saat Yana menelepon, Mama sedang ke pasar sore. Aku sedikit kesal. Kenapa Mama menelepon Yana, kenapa mama menyuruh Yana bersamaku padahal Yana dan Indah sudah janjian akan berangkat bersama dengan mobil yang sudah dipesan Indah. Aku juga sudah menelepon Indah untuk ikut bersamanya. Aku marah, kenapa Mama tidak memberi tahukanku terlebih dahulu sebelum menelpon Yana.

Saat Mama datang, Mama menawarkanku es buah yang ada ditangannya. Tanpa melirik es buah itu sedikitpun, aku langsung mempertanyakan tindakannya. Mama menjelaskan semua yang terjadi ditelepon. Tanpa kusadari, nada suaraku meningkat. Aku membentak Mama. Jantungku berdetak sangat kencang menyadari apa yang aku lakukan barusan adalah dosa besar. Mama mencoba meluruskan tapi aku sama sekali tidak mendengarkannya. Egoku mengalahkan hati kecilku. Aku mengambil ponsel Mama dan menelpon Indah bahwa aku tidak bisa ikut bersamanya besok. Salahku, aku belum memberitahu Mama bahwa aku akan ikut dengan mobil yang dipesan Indah.
Untuk menghindari perdebatan, aku masuk ke kamar dan mencoba menghibur diri dengan menonton drama korea dengan air mata yang terus bercucuran. Sekilas, aku mendengar tangisan Mama di luar. Hatiku hancur. Mendengar tangisan Mama membuatku sesak.

Aku berdiam diri dalam kamar. Sampai saat adzan maghrib berkumandang, aku keluar untuk mengambil wudhu. Mama menyuruhku berjamaah bersamanya dan juga adikku Ery. Saat sholat sedang berlangsung, tangisan Mama tetap terdengar meski Mama berusaha untuk menyembunyikannya. Mama memimpin doa setelah sholat. Walau berdoa dalam hati, aku seperti bisa mendengar bai-bait doa yang Mama langitkan. Selesai berdoa, aku berniat menyalami Mama. Mama membalas uluran tanganku dan membawa tubuhku dalam pelukannya. Sangat erat. Air mata Mama dan air mataku menyatu. Mama meminta maaf kepadaku dengan mencium pipiku berulang kali. Tahukah apa yang lebih menyakitkan daripada mendengar tangisan Mama? Adalah saat Mama meminta maaf padaku. Seharusnya, aku yang mengucapkan kata maaf lebih dulu. Seharusnya, aku memeluk Mama lebih dulu. Mendengar Mama meminta maaf sampai mengeluarkan air mata rasanya sangat menyakitkan. Aku dikuasai egoku, sampai mengucap maaf pun sangat berat.

Andai Mama pintar mengakses google, atau jika suatu hari Mama kebetulan mengakses google, aku berharap Mama membaca ini. Dan saat Mama membacaya, Mama akan mengumpat betapa tidak tau malunya aku meminta maaf melalui tulisan.

Mama, aku minta maaf.

Aku minta maaf untuk setiap kata yang menyakiti hatimu,
Aku meminta maaf untuk setiap air matamu.

Mama, maaf karena tidak meminta maaf lebih dulu, maaf karena tidak memelukmu lebih dulu.

Jika bisa dilahirkan kembali, maka aku akan tetap memilih untuk dilahirkan oleh Mama. Terima kasih atas segala cinta dan kasih sayang sampai hari ini, esok, dan seterusnya. Terima kasih untuk setiap bait doa yang Mama langitkan untukku.

Mama, kumohon jangan menangis lagi.
Jangan meminta maaf lebih dulu. Jangan memelukku lebih dulu. Biarkan aku yang melakukannya untukmu.
Aku sayang Mama.

dari Putrimu yang tidak tau malu,

Vina.

Komentar

Postingan Populer